Enam Kunci Kesuksesan Santri Markaz Arabiyah

“Ojo lali, Iso Ora Iso Seng Penting:

Sekolah-Apalan-Lalaran-Syawir-Jama’ah, kanti Istiqomah”

(Jangan lupa, bisa atau tidak yang penting: Belajar-Menghafal-Mengulang-Berdiskusi-Sholat Jama’ah, dengan istiqomah)

Semboyan yang akrab menyapa para santri setiap mereka hendak menghafal nadzam pelajaran, baik itu berupa tashrifan, natsar Al Ajurumiyah atau syiir Alfiyah. Terpampang di cover belakang nadzaman menjadikan dawuh kyai klasik itu mempunyai kekuatan tersendiri dalam menginspirasi para santri dalam segala aktifitasnya, termasuk dunia pendidikan. Tak ayal, mereka menjadikan semboyan tersebut sebagai konsep belajar ala pendidikan pesantren salaf.

Karenanya, menarik kiranya jika kita telaah konsep tadi melalui kajian tematik, mengingat bahwa: ajaran-ajaran yang terkandung dalam pesantren tetap merupakan pedoman hidup dan kehidupan yang sah dan relevan. Sah artinya ajaran itu diyakini bersumber pada kitab Allah Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah (Al-Hadits), dan relevan artinya ajaran-ajaran itu masih tetap cocok dan berguna kini atau nanti.

1. Sekolah

Sekolah yang didawuhkan kyai klasik ini bukanlah bermakna bangunan atau tempat, akan tetapi lebih menekankan pada proses pencapaian ilmu, yakni melalui media belajar. Ilmu tak dapat diperoleh dari sekedar ngalap berkah ataupun berkhidmah dengan berbagai versinya. Perlu ada usaha dan ikhtiar dalam mencarinya. Tidakkah Allah berfirman dalam QS. At Taubah: 122: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama…”.

Turunnya ayat tersebut bermula ketika Rasulullah mengutus pasukan menuju medan perang, maka seluruh umat muslim pergi berjihad sehingga Rasulullah ditinggal sendirian. Maka, Allah menegur melalui ayat di atas.[1]

Berdasarkan ayat tersebut, Al Qasimi menegaskan maka hukum belajar serta mendalami agama, menyebarkan ilmu dan mengajarkannya sama halnya dengan hukum berjihad, yaitu fardhu kifayah.[2]

2. Apalan

Metode hafalan merupakan sistem andalan santri klasik. Mereka berbangga diri ketika berhasil khatam menghafalkan ‘Imrithi, Nadzm Maqshud dan Alfiyah Ibnu Malik. Besarnya apresiasi dari pesantren membingkai paradigma hafalan memiliki daya tarik tersendiri di kalangan santri. Hal tersebut dibudidayakan agar dalam setiap mengambil sikap dalam segala hal, mereka memiliki argumentasi atau dasar yang menjadi pijakannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“… katakanlah, “apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui…” (QS. Az Zumar: 9).

Al Alusi menerangkan bahwa ayat tadi secara gamblang menjelaskan perbedaan derajat antara orang yang sekedar taklid buta dengan orang yang mengetahui hakikat amal, lantas dia mengerjakannya dengan kedalaman ilmu. Sebenarnya hanya ulul albab lah yang dapat memetik pelajaran.[3]

3. Lalaran

Lalaran sebetulnya bagian dari muthola’ah atau mereview pelajaran. Biasanya dengan melantunkan beberapa bait nadzam yang telah dihafal selama sepekan, baik dilakukan secara individu atau bersama kawan sejawat. Lantunan lalaran akan terdendang merdu hampir di seluruh penjuru pesantren, lumrahnya terjadi pada sore menjelang maghrib.

Hal ini merupakan bentuk konsekuensi kesungguhan santri klasik, mereka tak ingin menyiratkan gurat kekecewaan pada wajah sang kyai. Karenanya, mereka berikhtiar semaksimal mungkin untuk menggapai ridho guru. Tidakkah QS. Al Ankabut: 69 menyatakan: “Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan) Kami, maka kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami….”

Ada sebuah adagium mengesankan bersumber dari Al Qusyairi tatkala menafsirkan ayat di atas melalui perkataannya:

‘Alladzina zayyanu bil mujahadat, hasunat sarairuhum bil musyahadat. Alladzina syaghalu dzawahirahum bil wadhzaif, aushalna ila sarairil lathaif’

Artinya: Mereka yang menghiasi diri dengan usaha keras, akan bagus rahasia (masa depannya) dengan bukti dari Tuhan. Dan mereka yang menyibukkan diri dengan berbagai tugas mulia, akan kami sampaikan pada maksud Tuhan yang Agung.

4. Syawir

Konsep belajar santri klasik yang ke-empat tak lain adalah berdiskusi atau musyawarah. Penting kiranya dilakukan guna mengantisipasi kejumudan berpikir sehingga timbullah persepsi taqdisul afkar al islami atau pensucian terhadap pola pikir islami. Santri dilatih untuk beranalisa kritis dan tajam terhadap realita kehidupan.

Dalam firman-Nya, Allah menyatakan:

“Dan bagi orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka….” (QS. Asy Syura: 38).

Ayat tersebut merupakan wujud apresiasi Allah terhadap kaum anshar, tatkala mereka diminta untuk beriman dan taat kepada-Nya, mereka melaksanakannya. Dan nilai positif lainnya adalah bermusyawarah dalam menyelesaikan segala urusan. Kebiasaan itu berlangsung jauh sebelum Islam masuk ke wilayah Madinah.[4]

Dari Al Hasan: ‘Tidaklah suatu kaum bermusyawarah, kecuali mereka diberi petunjuk yang terbaik’.[5]

5. Jama’ah

Mungkin bagi kalangan akademisi umum, konsep belajar yang ke-lima ini akan menjadi tanda tanya besar. Bagaimana mungkin jama’ah dapat menjadi rangkaian konsep pendidikan pesantren? Bahkan di sebagian pesantren klasik mewajibkan santrinya untuk shalat berjama’ah. Bila diketahui absen jama’ah, akan ada sanksi sesuai dengan raka’at yang ditinggalkannya.

Kerancuan ini akan menemui titik temu tatkala kita menelaah hadits berikut:

“…. maka hendaklah kalian menetapi sholat jama’ah, sesungguhnya serigala hanya memangsa domba yang terpisah dari gerombolannya”[6]

Perumpamaan dalam hadits tersebut mengisyaratkan bahwasanya setan akan dengan mudahnya menguasai hamba bilamana dia melakukan sholat dengan sendirian. Ketika setan sukses menaklukkan, maka dia akan menggiring kepada pembangkangan atau bermaksiat kepada Tuhan.[7]

Dan di saat seorang santri telah gemar bermaksiat, niscaya dia terhalang dari kemanfaatan ilmu. Dikisahkan bahwa imam Syafi’i mengalami kesulitan menghafal, lantas dia meminta petunjuk kepada gurunya, Syekh Waqi’. Beliau menasehati agar meninggalkan kemaksiatan, karena ilmu adalah pantulan cahaya Tuhan, dan Dia tak akan memberikannya kepada orang yang membangkang atau bermaksiat.

6. Istiqomah

Lima komponen yang telah disebutkan di atas tak akan berjalan sempurna bilamana tak dilakukan secara istiqomah atau berkelanjutan. Di sinilah letak krusial keberhasilan santri klasik. Banyak di antara mereka yang menggebu di awal, seiring kemudian terjadilah seleksi alam. Satu persatu berguguran kecuali mereka yang senantiasa istiqomah.

Sebagaimana tercantum dalam hadits Bukhori dari riwayat Aisyah: “Paling dicintainya amal di sisi Allah adalah yang istiqomah, sekalipun sedikit”.

Ash Shan’ani menjelaskan bahwa amal yang dilakukan secara kontinu lebih utama dari sisi keistiqomahannya. Sebagaimana termaktub dalam riwayat lain bahwasanya amal yang paling dicintai Allah adalah sholat fardhu, karena dikerjakan secara kontinu setiap hari sebanyak lima waktu.[8]

Oleh karenanya, diperlukan santri yang berjiwa seperti ‘dzomir na’ yang dapat bertahan multi dimensi, baik itu dimensi rofa’ (gembira), nashab (standar) dan khafd (sedih).[9]

Editor: Anis Malichah

Penulis: Arul Chairullah

 

[1] Ath Thabari, Jami’ Al Bayan, (Kairo: Muassasah Ar Risalah, 2000), juz. 14, hal. 566.

[2] Al Qasimi, Mahasinit Ta’wil, (Beirut: Darul Kutub Al Ilmiyah, 1418), juz. 5, hal. 529.

[3] Al Alusi, Ruhul Ma’ani, (Beirut: Darul Kutub Al Ilmiyah, 1415), juz. 8, hal. 81.

[4] Az Zamakhsari, Al Kasyaf…………., juz. 4, hal. 228.

[5] Ibid, hal. 229.

[6] HR. Abu Daud, No. 547.

[7] Al ‘Aini,

[8] Ash Shan’ani, At Tanwir…….., juz. 1, hal. 384.

[9] Terinspirasi dari salah satu nadzam alfiyah: Lir raf’i wan nashbi wa jarrina shalah # ka’rif bina fainnana nilnal muna.

3 komentar untuk “Enam Kunci Kesuksesan Santri Markaz Arabiyah”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *